Kamis, 23 Agustus 2012

Mengenang Para Martir Claretian (CMF) di Barbastro



MARTIR: AKTUALISASI CITRA DIRI SEBAGI MURID KRISTUS
(In memoriam 75 Tahun Para Martir Claretian Barbastro)
Oleh: Aloysius Edwino Ganti (Novis CMF 2012)

51 Claretian Muda dari Barbastro Sirami Tanah Spanyol dengan Darah Mereka
“Kami semua mati dengan gembira tanpa ada seorangpun yang merasa tidak semangat dan menyesal. Kami semua mati sambil berdoa kepada Allah agar darah yang tertumpah dan mengalir dalam urat nadimu menyemangati perkembangan dan penyebaranmu ke seluruh dunia.  Selamat tinggal Tarekat tercinta.” [1] (Faustino Perez, CMF, Agustus 1936).
                Sepenggal seruan di atas merupakan salah satu dari sekian banyak tulisan indah bekas peninggalan dari kelima puluh satu Martir Claretian dari Barbastro(Spanyol). Seruan-seperti itu menjadi ekspresi batin di saat - saat terakhir hidup mereka. Persembahan saat in jury time itu terjadi tujuh puluh lima tahun silam(1936). Kala itu, terjadi perang saudara di Spanyol. Kekacauan  politik  dan nafsu-nafsu manusia berada dalam tensi tinggi. Kejahatan - kejahatan  dan berbagai kekejaman pun dilancarkan oleh kubu - kubu yang  berselisih. [2]Semua itu memperkeruh situasi Spanyol waktu itu.
                Dalam situasi Spanyol yang seperti inilah muncul kelima puluh satu martir Claretian yang berani mati demi Yesus dan Maria serta Gereja dan Tarekat tercinta. Mereka ini kemudian dikenal sebagai para martir Claretian dari Barbastro. Pada waktu itu mereka sedang tinggal dalam sebuah komunitas formasi(Seminari). Mereka sedang menyiapkan diri untuk menjadi para pelayan Tuhan dalam dunia, Gereja, dan Tarekat. Sebagian besar dari mereka sedang berada di tahun terakhir masa studi. Selain itu, sebagian besar dari mereka adalah pemuda-pemuda yang berada dalam usia dua puluh sampai dua puluh empat tahun.[3]
                Sangat mengagumkan keberanian mereka. Bagisebagian orang, ini merupakan suatu kebodohan dan perbuatan yang gila. Ya, jika dilihat secara sepintas, mereka seperti orang-orang bodoh yang membiarkan hamparan ladang nan subur dan penuh dengan tanaman berharga  terbakar di depan mata mereka. Mereka  membuang semua impian dan masa depan yang menjanjikan hanya karena ingin mati sebagai martir demi mempertahankan apa yang menjiwai mereka. Akan tetapi itulah keunggulan iman mereka yang menjadi kebanggaan kita di setiap generasi.
                Dalam surat-surat dan tulisan - tulisan yang mereka tinggalkan untuk kita, dengan nada penuh  bangga dan tulus, mereka  menjelaskan penyebab kematian mereka. Salvador Piguem, CMF menuliskan, “Mereka membunuh kami karena benci terhadap agama. Tuhan ampunilah mereka. Di dalam penjara, kami tidak memberikan perlawanan apapun. Dalam rumah, perilaku kami tidak bercacat. Hiduplah Hati Tak Bernoda Maria! Mereka menembak kami hanya karena kami adalah para religius [biarawan].[4] Di kemudian hari, para pembunuh  yang kejam itu mengakui pula alasan pembunuhan kelima puluh satu putra Gereja yang tak bercacat itu. Amadeo Bonch, salah seorang anarkis yang terlibat dalam aksi itupun bersaksi, “Sayang mereka tak mau bergabung dengan kami. Mereka mati demi citra yang dihayati mereka. Tiada yang dapat menyingkirkan mereka dari hal itu.[5]  Demikian selama bulan Juli sampai Agustus 1936, para martir  ini disiksa, diintimidasi, sebelum dibunuh secara sadis!

Yesus Kristus: Mata Air Kemartiran                                                                                                                                        
                Yesus Kristus putra Allah yang mengambil rupa seorang hamba(bdk. Flp 2, 7 - 8) diutus Bapa ke dunia untuk melaksanakan kehendak-Nya (bdk. Yoh 5, 36). Misi perutusan ini sekaligus memenuhi pewahyuan Allah yang sebelumnya dimaklumkan oleh para nabi. Dengan demikian, Yesus Kristus adalah puncak wahyu itu sendiri (DV 4).
                Yesus  datang ke dunia untuk mewartakan pembebasan bagi dunia dari penghambaan dosa. Dengan ilham ilahi, Dia telah memberikan  pewartaan dan kesaksian yang benar tentang kasih Allah dan kerajaan-Nya(bdk. Yoh 3,1-12). Melalui pewartaan itu, manusia dapat dibebaskan dari kuasa dosa dan menjadi satu kembali dengan Allah, serta diangkat menjadi anak- anak-Nya.
                Akan tetapi, Yesus dalam karya-karyanya di dunia  tidak diterima begitu saja oleh umat yang telah dipercayakan (Bapa) kepadaNya. Dia sering ditolak dan ajaran-Nyapun ditentang oleh mereka. Orang -orang yang  seharusnya menerima pengajaran Yesus cenderung menutup diri  terhadap Yesus pun ajaran-Nya, bahkan ada yang menganggapnya sebagai penghujat Allah, orang gila dari Galilea yang tidak tahu adat istiadat Yahudi.
                Kendati demikian, Yesus dengan kekuatan  Roh-Nya  tak surut menyerukan  kebenaran kepada mereka. Dengan lantang Ia meyakinkan mereka bahwa Dia adalah seorang  yang diutus untuk  membawa kabar gembira yakni keselamatan.
                Buntut dari semua tindakan Yesus itu adalah munculnya gerakan orang-orang yang tidak menyukai-Nya dan menantang-Nya. Mereka itu selalu berusaha untuk menyingkirkan Yesus. Semakin hari kebencian mereka terhadap Yesus semakin bertambah besar. Puncak dari semua itu adalah peristiwa penangkapan, pengadilan Yesus secara tak adil, dan penyaliban Yesus hingga wafat.
                Melalui darahNya sendiri, Yesus memeteraikan  segala yang telah dimaklumkan-Nya termasuk identitas-Nya sendiri yakni “Anak Allah”. Dia mati demi mempertahankan kebenaran sejati dan demi kebaikan dunia dan umat kesayangan Bapa.
                Kematian Yesus dilihat sebagai contoh utama  kemartiran.[6]  Dialah sumber air kemartiran Gereja. Dari-Nya mengalir kekuatan yang merasuki para pengikut-Nya untuk mati demi kesaksian dan citra atau identitas yang sama.

Aktualisasi Citra Diri
                Mengaktualisasikan diri berarti mewujudnyatakan eksistensi diri. Dengan kata lain, memperkenalkan sesuatu yang terpendam dalam diri. Hal-hal di dalam diri yang  masih abstrak dikonversikan menjadi sebuah realita konkret yang dapat dilihat atau dipahami. Pewujudnyataan eksistensi diri yang dimaksud tentu dibuat melalui suatu karya atau aksi nyata.
                Dalam tulisan sederhana ini penulis ingin melukiskan aktualisasi diri dari kelima puluh satu orang martir Claretian dari Barbastro. Dalam mana, mereka telah menunjukan diri mereka melalui aksi penyerahan diri yang total.
                Seperti Kristus, kelima puluh satu martir Claretian ini pun hadir dengan suatu citra yang sama yakni sebagai orang-orang terpilih dan anak-anak Allah. Mereka telah dipanggil untuk mengalami hidup seperti Kristus. Melalui panggilan itu mereka bersaksi tentang kebenaran kerajaan Allah.
                Kelima puluh satu saudara kita para martir Claretian dari Barbastro ini sesungguhnya merupakan contoh orang-orang yang sadar akan identitas  diri. Kesadaran akan identitas sebagai putra - putra Allah mendorong mereka untuk berani berkorban demi kelanjutan karya Yesus. Miguel Massip menuliskan ayat lagu seorang misionaris seperti berikut untuk menyatakan perasaannya,“Yesus Engkau tahu akulah prajurit-Mu; selalu di samping-Mu aku berjuang, satu janji dan cita-cita, demi Engkau darah tertumpah.”[7] Dengan cara-cara seperti itu mereka memberikan kesaksian akan kebenaran cinta kepada Yesus dan sang Bapa.  
                Kita juga perluh mengingat bahwa kemartiran para martir ini tidak disebabkan oleh kegilaan akan harta duniawi. Henri J M Nouwen seorang penulis spiritual  asal Belanda pernah menyatakan, “Yang harus kau perjuangkan adalah meyakini kebenaran batinmu  dan hidup di dunia ini sebagai orang yang bukan milik dunia.”[8]Bagi saya, saudara-saudara kita para martir Claretian dari Barbastro ini pun telah menempuh perjuangan itu. Mereka sungguh telah meyakinkan diri mereka sebagai yang bukan milik dunia melainkan milik Kristus. Kematian yang mereka terima adalah kemenangan atas dunia. Mereka berjuang bukan untuk menjadi agung seperti harapan dunia, melainkan  demi citra diri sebagai murid-murid Kristus dan anak-anak Allah yang sejati. Hal ini diamini pula oleh P. Aquilino Bocos, CMF, bahwa mereka mati hanya demi satu citra.[9]
Penderitaan dan kematian kelima puluh satu martir Claretian ini memang tragis. Siapa yang peduli pada mereka. Siapa juga yang pernah memikirkan kematian dari sekian banyak religius, di bunuh dalam satu rumah atau komunitas dan dalam waktu yang begitu singkat. Namun perluh kita akui bahwa ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kita baik sebagai Gereja maupun Tarekat. Maka kita mesti bangga karena saudara-saudara kita ini telah menerima pembaptisan darah dan menunjukan kesempurnaan cinta kasih; sebuah kesempurnaan cinta yang membawa mereka kepada pangkuan Bapa. Dengan cara demikian pula, mereka sungguh menunjukan siapakah mereka sebenarnya. Itulah tindakan mengaktualisasikan citra diri versi mereka.
Baiklah kita bertanya pada diri masing – masing, mampukah kita menunjukan diri kita yang sebenarnya? Hiduplah Kristus Raja. Hiduplah Bunda Maria. Hiduplah Gereja. Hiduplah Tarekat tercinta.



[1]Gabriel Campo Villegas, Claretian Martyrs of Barbastro, Ditrj. DariMartiresClaretianos de Barbastro,Oleh,Joseph Daries,CMFClaretian Publications, Quezon City, Philippines,1992, 36.  
[2]Ibid,P.3
[3]Ibid,P.4
[4]Ibid  p. 25
[5]Saat-saatTerakhirKematian Para Martir Claretian dariBarbastro (terj: oleh Claretian Indonesia-Timor Leste): Tarekat Para Misionaris Claretian, 1999.
[6]Gerald O’Collins, SJ & Edward G. Farrugia, SJ, KamusTeologi,Ditrj. Dari, A Conciens Dictionary Of Theology,Oleh: I. Suharyo, Pr,Kanisius, Yogyakarta,1996, 191.
[7]Gabriel Campo Villegas, Claretian Martyrs of Barbastro, 24.
[8]Henri J.M. Nouwen,Engkaudikasihi, Diterj. Dari, Life of The Beloved,Oleh:I. Suharyo, Pr, Kanisius, Yogyakarta, 1995, 73
[9]Saat-saatTerakhirKematian Para Martir Claretian dariBarbastro (terj: oleh Claretian Indonesia-Timor Leste): Tarekat Para Misionaris Claretian, 1999.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar