MARTIR: AKTUALISASI CITRA DIRI SEBAGI MURID
KRISTUS
(In
memoriam 75 Tahun Para Martir Claretian Barbastro)
Oleh:
Aloysius Edwino Ganti (Novis CMF 2012)
51 Claretian Muda dari Barbastro Sirami Tanah Spanyol dengan Darah
Mereka
Sepenggal seruan di atas merupakan salah satu dari
sekian banyak tulisan indah bekas peninggalan dari kelima puluh satu Martir Claretian
dari Barbastro(Spanyol). Seruan-seperti itu menjadi ekspresi batin di saat - saat
terakhir hidup mereka. Persembahan saat in
jury time itu terjadi tujuh puluh lima tahun silam(1936). Kala itu, terjadi
perang saudara di Spanyol. Kekacauan
politik dan nafsu-nafsu manusia
berada dalam tensi tinggi. Kejahatan - kejahatan dan berbagai kekejaman pun dilancarkan oleh
kubu - kubu yang berselisih. [2]Semua
itu memperkeruh situasi Spanyol waktu itu.
Dalam situasi Spanyol yang seperti inilah muncul kelima
puluh satu martir Claretian yang berani mati demi Yesus dan Maria serta Gereja
dan Tarekat tercinta. Mereka ini kemudian dikenal sebagai para martir Claretian
dari Barbastro. Pada waktu itu mereka sedang tinggal dalam sebuah komunitas
formasi(Seminari). Mereka sedang menyiapkan diri untuk menjadi para pelayan
Tuhan dalam dunia, Gereja, dan Tarekat. Sebagian besar dari mereka sedang
berada di tahun terakhir masa studi. Selain itu, sebagian besar dari mereka
adalah pemuda-pemuda yang berada dalam usia dua puluh sampai dua puluh empat
tahun.[3]
Sangat
mengagumkan keberanian mereka. Bagisebagian orang, ini merupakan suatu
kebodohan dan perbuatan yang gila. Ya, jika dilihat secara sepintas, mereka
seperti orang-orang bodoh yang membiarkan hamparan ladang nan subur dan penuh
dengan tanaman berharga terbakar di
depan mata mereka. Mereka membuang semua
impian dan masa depan yang menjanjikan hanya karena ingin mati sebagai martir
demi mempertahankan apa yang menjiwai mereka. Akan tetapi itulah keunggulan
iman mereka yang menjadi kebanggaan kita di setiap generasi.
Dalam
surat-surat dan tulisan - tulisan yang mereka tinggalkan untuk kita, dengan
nada penuh bangga dan tulus, mereka menjelaskan penyebab kematian mereka. Salvador
Piguem, CMF menuliskan, “Mereka
membunuh kami karena benci terhadap agama. Tuhan ampunilah mereka. Di dalam
penjara, kami tidak memberikan perlawanan apapun. Dalam rumah, perilaku kami
tidak bercacat. Hiduplah Hati Tak Bernoda Maria! Mereka menembak kami hanya
karena kami adalah para religius [biarawan].”[4]
Di kemudian hari, para pembunuh yang
kejam itu mengakui pula alasan pembunuhan kelima puluh satu putra Gereja yang
tak bercacat itu. Amadeo Bonch, salah seorang anarkis yang terlibat dalam aksi
itupun bersaksi, “Sayang mereka tak mau
bergabung dengan kami. Mereka mati demi citra yang dihayati mereka. Tiada yang
dapat menyingkirkan mereka dari hal itu.”[5] Demikian selama bulan Juli sampai Agustus
1936, para martir ini disiksa,
diintimidasi, sebelum dibunuh secara sadis!
Yesus Kristus: Mata Air Kemartiran
Yesus Kristus putra Allah
yang mengambil rupa seorang hamba(bdk. Flp 2, 7 - 8) diutus Bapa ke dunia untuk
melaksanakan kehendak-Nya (bdk. Yoh 5, 36). Misi perutusan ini sekaligus
memenuhi pewahyuan Allah yang sebelumnya dimaklumkan oleh para nabi. Dengan
demikian, Yesus Kristus adalah puncak wahyu itu sendiri (DV 4).
Yesus datang ke dunia untuk mewartakan pembebasan
bagi dunia dari penghambaan dosa. Dengan ilham ilahi, Dia telah memberikan pewartaan dan kesaksian yang benar tentang
kasih Allah dan kerajaan-Nya(bdk. Yoh 3,1-12). Melalui pewartaan itu, manusia
dapat dibebaskan dari kuasa dosa dan menjadi satu kembali dengan Allah, serta
diangkat menjadi anak- anak-Nya.
Akan
tetapi, Yesus dalam karya-karyanya di dunia
tidak diterima begitu saja oleh umat yang telah dipercayakan (Bapa)
kepadaNya. Dia sering ditolak dan ajaran-Nyapun ditentang oleh mereka. Orang -orang
yang seharusnya menerima pengajaran
Yesus cenderung menutup diri terhadap
Yesus pun ajaran-Nya, bahkan ada yang menganggapnya sebagai penghujat Allah,
orang gila dari Galilea yang tidak tahu adat istiadat Yahudi.
Kendati demikian, Yesus dengan kekuatan Roh-Nya
tak surut menyerukan kebenaran
kepada mereka. Dengan lantang Ia meyakinkan mereka bahwa Dia adalah
seorang yang diutus untuk membawa kabar gembira yakni keselamatan.
Buntut dari semua tindakan Yesus itu adalah munculnya
gerakan orang-orang yang tidak menyukai-Nya dan menantang-Nya. Mereka itu
selalu berusaha untuk menyingkirkan Yesus. Semakin hari kebencian mereka
terhadap Yesus semakin bertambah besar. Puncak dari semua itu adalah peristiwa
penangkapan, pengadilan Yesus secara tak adil, dan penyaliban Yesus hingga
wafat.
Melalui darahNya sendiri, Yesus memeteraikan segala yang telah dimaklumkan-Nya termasuk
identitas-Nya sendiri yakni “Anak Allah”. Dia mati demi mempertahankan
kebenaran sejati dan demi kebaikan dunia dan umat kesayangan Bapa.
Kematian Yesus dilihat sebagai contoh utama kemartiran.[6] Dialah sumber air kemartiran Gereja. Dari-Nya
mengalir kekuatan yang merasuki para pengikut-Nya untuk mati demi kesaksian dan
citra atau identitas yang sama.
Aktualisasi Citra Diri
Mengaktualisasikan diri
berarti mewujudnyatakan eksistensi diri. Dengan kata lain, memperkenalkan
sesuatu yang terpendam dalam diri. Hal-hal di dalam diri yang masih abstrak dikonversikan menjadi sebuah
realita konkret yang dapat dilihat atau dipahami. Pewujudnyataan eksistensi
diri yang dimaksud tentu dibuat melalui suatu karya atau aksi nyata.
Dalam tulisan sederhana ini penulis ingin melukiskan
aktualisasi diri dari kelima puluh satu orang martir Claretian dari Barbastro.
Dalam mana, mereka telah menunjukan diri mereka melalui aksi penyerahan diri
yang total.
Seperti
Kristus, kelima puluh satu martir Claretian ini pun hadir dengan suatu citra
yang sama yakni sebagai orang-orang terpilih dan anak-anak Allah. Mereka telah
dipanggil untuk mengalami hidup seperti Kristus. Melalui panggilan itu mereka
bersaksi tentang kebenaran kerajaan Allah.
Kelima
puluh satu saudara kita para martir Claretian dari Barbastro ini sesungguhnya
merupakan contoh orang-orang yang sadar akan identitas diri. Kesadaran akan identitas sebagai putra -
putra Allah mendorong mereka untuk berani berkorban demi kelanjutan karya
Yesus. Miguel Massip menuliskan ayat lagu seorang misionaris seperti
berikut untuk menyatakan perasaannya,“Yesus
Engkau tahu akulah prajurit-Mu; selalu di samping-Mu aku berjuang, satu janji
dan cita-cita, demi Engkau darah tertumpah.”[7]
Dengan cara-cara seperti itu mereka memberikan kesaksian akan kebenaran cinta
kepada Yesus dan sang Bapa.
Kita juga perluh mengingat bahwa kemartiran para
martir ini tidak disebabkan oleh kegilaan akan harta duniawi. Henri J M Nouwen
seorang penulis spiritual asal Belanda
pernah menyatakan, “Yang harus kau
perjuangkan adalah meyakini kebenaran batinmu
dan hidup di dunia ini sebagai orang yang bukan milik dunia.”[8]Bagi
saya, saudara-saudara kita para martir Claretian dari Barbastro ini pun telah
menempuh perjuangan itu. Mereka sungguh telah meyakinkan diri mereka sebagai
yang bukan milik dunia melainkan milik Kristus. Kematian yang mereka terima
adalah kemenangan atas dunia. Mereka berjuang bukan untuk menjadi agung seperti
harapan dunia, melainkan demi citra diri
sebagai murid-murid Kristus dan anak-anak Allah yang sejati. Hal ini diamini
pula oleh P. Aquilino Bocos, CMF, bahwa mereka mati hanya demi satu citra.[9]
Penderitaan dan kematian
kelima puluh satu martir Claretian ini memang tragis. Siapa yang peduli pada
mereka. Siapa juga yang pernah memikirkan kematian dari sekian banyak religius,
di bunuh dalam satu rumah atau komunitas dan dalam waktu yang begitu singkat.
Namun perluh kita akui bahwa ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi
kita baik sebagai Gereja maupun Tarekat. Maka kita mesti bangga karena
saudara-saudara kita ini telah menerima pembaptisan darah dan menunjukan
kesempurnaan cinta kasih; sebuah kesempurnaan cinta yang membawa mereka kepada
pangkuan Bapa. Dengan cara demikian pula, mereka sungguh menunjukan siapakah
mereka sebenarnya. Itulah tindakan mengaktualisasikan citra diri versi mereka.
Baiklah kita bertanya pada diri masing – masing, mampukah kita
menunjukan diri kita yang sebenarnya? Hiduplah Kristus Raja. Hiduplah Bunda
Maria. Hiduplah Gereja. Hiduplah Tarekat tercinta.
[1]Gabriel Campo Villegas, Claretian Martyrs of Barbastro, Ditrj.
DariMartiresClaretianos de Barbastro,Oleh,Joseph
Daries,CMFClaretian Publications, Quezon City, Philippines,1992, 36.
[2]Ibid,P.3
[3]Ibid,P.4
[4]Ibid p. 25
[5]Saat-saatTerakhirKematian
Para Martir Claretian dariBarbastro (terj: oleh Claretian Indonesia-Timor
Leste): Tarekat Para Misionaris Claretian, 1999.
[6]Gerald O’Collins, SJ &
Edward G. Farrugia, SJ, KamusTeologi,Ditrj.
Dari, A Conciens Dictionary Of Theology,Oleh:
I. Suharyo, Pr,Kanisius,
Yogyakarta,1996, 191.
[7]Gabriel Campo Villegas, Claretian Martyrs of Barbastro, 24.
[8]Henri J.M. Nouwen,Engkaudikasihi, Diterj. Dari, Life of The Beloved,Oleh:I. Suharyo, Pr,
Kanisius, Yogyakarta, 1995, 73
[9]Saat-saatTerakhirKematian
Para Martir Claretian dariBarbastro (terj: oleh Claretian Indonesia-Timor
Leste): Tarekat Para Misionaris Claretian, 1999.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar