KEMARTIRAN: SEBUAH PEMBUKTIAN TERDASYHAT DALAM MENCINTA
PaschaL (Novis CMF 2012)
SENTILAN AWAL
Kehidupan manusia tidak terlepas
dari cobaan dan tantangan. Tantangan itu membuat manusia berada dalam pilihan
dan butuh ketegaran hati untuk memilih. Ketika manusia mampu mengatasi
tantangan itu, ia menemukan suatu makna baru dalam hidupnya.
Tuhan begitu mencintai kita, karena itu Dia tidak akan membiarkan kita
jatuh dalam cobaan jika kita menyerahkan diri kepada-Nya. Karena cinta pula, Ia
rela mengutus Putera-Nya tercinta ke dunia demi umatNya. Ia menunjukkan sebuah
skenario percintaan-Nya dengan kita umatnya, melalui sengasara dan wafat
Kristus. Ia mau mengajarkan kepada kita bahwa cinta merupakan kekuatan
terdasyhat dalam membangun sebuah kehidupan. Karena cinta Ia merelakan
Puteranya terkasih menderita dan karena cinta pulalah Yesus menjalankan
tugasNya hingga berakhir di kayu salib.
Ketika cinta itu sudah ada dalam diri seseorang, maka tentulah segala
sesuatu tidak memiliki kekuatan apapun untuk menghancurkannya. Cinta adalah
anugerah terindah yang dikaruniakan Sang Pencipta kepada kita. Ia mencinta kita
dan Ia pun berharap agar kita dapat mencintai-Nya dengan segenap kemampuan yang
kita miliki. Cinta kasih menampilkan dirinya sebagai faktor penuntun dalam
mewujudkan kehidupan yang penuh kedamaian. Tanpa hadirnya perasaan ini,
tentulah orang akan menjalankan segala aktivitas kehidupannya berdasarkan
pemahaman dan interpretasi secara individual yang akan mendorong terjadinya
konflik[1]. Kasus-kasus seperti
pembunuhan, penindasan, dan penganiayaan adalah contoh betapa pentingnya
melakukan integritas diri dengan cinta kasih. Cinta adalah kekuatan. Ia mampu
memasukan energi yang membuat diri menjadi tenang dan nyaman. Ketenangan dan
kenyamanan yang diperoleh dalam kekuatan cinta membuat manusia mampu tegas
untuk menahan dan menghancurkan tantangan-tantangan ataupun godaan-godaan yang
akan menjauhkan diri kita dari Sang Cinta. Lalu, bagaimana cinta itu mengambil
peran dalam kemartiran para pujangga muda Claretian di Barbastro tujuh puluh
lima tahun silam???
MENCINTAI DALAM KONTEKS KEMARTIRAN
Pertama-tama perlu diketahui pengertian
martir dan hubungan mencinta dalam proses kemartiran. Istilah martir membuat
pikiran kita melayang pada pemandangan di arena Romawi Kuno di mana orang-orang
kristen yang mula-mulai diadu dengan binatang buas. Atau, istilah itu juga
dapat menunjukkan bukti-bukti mengerikan di abad keenam belas dalam Fixe’s Book of Martirs-yaitu sebuah buku
yang menyajikan gambar-gambar penyiksaan dan ketelanjangan dari masa reformasi
yang menyebutkan imam dan rahib Yesuit yang dibunuh bidat-bidat Protestan[2]. Lalu, bagaimana peranan cinta
dalam konteks kemartiran? Apakah kedua hal ini memiliki keterkaitan? Adakah
proses mencintai berpengaruh dlm sebuah kontek kemartiran? Sebuah jawaban
singkat yang akan menjadi pencerah pertanyaan ini adalah “YA”. Sebuah proses
kemartiran itu dapat terjadi karena cinta. Seorang rela mati karena ia ingin
mempertahankan kesatuan cintanya dengan Dia yang ia cintai, Dia yang
mencintainya dan dia yang telah mengadakan cinta itu sendiri. Yesus,Putera
Allah, telah menyatakan cinta kasihNya dengan menyerahkan nyawaNya bagi kita.
Maka tidak seorang pun mempunyai cinta kasih yang lebih besar daripada dia yang
merelakan nyawanya untuk Dia dan untuk saudara-saudaranya [lih. 1Yoh. 3:16;
Yoh 15:13]. Sudah sejak masa permulan ada orang-orang kristiani yang telah
dipanggil dan selalu masih akan ada yang dipangil untuk memberi kesaksian cinta
kasih yang tertinggi itu di hadapan semua orang, khususnya di muka para
penganiaya. Maka Gereja memandang sebagai karunia luar biasa dan bukti cinta
kasih tertinggi kematian sebagai martir yang menjadikan murid serupa dengan
Guru yang dengan rela menerima wafatNya demi keselamatan dunia serupa dengan
Dia dalam menumpakan darah [LG 42].
Martir, yang arti dasarnya
“saksi”, pertama kali dipakai sebagai rujukan bagi orang-orang Kristen
mula-mula yang dibunuh karena pengakuan iman mereka kepada Allah. Para saksi
ini bukan saja mengungkapkan apa yang mereka lihat dengan mata mereka melainkan
juga apa yang mereka lihat dengan hati mereka. Mereka menangung penderitaan
sekarang sebab mereka yakin akan pemerintahaan Allah di bumi dan pengharapan
yang akan menempatkan mereka dalam kehidupan surgawi yang akan datang. Istilah
itu sudah meluas dalam pemakaian sekarang, tetapi dalam pengertian yang paling sederhana
akan kemartiran, seorang individu dituntut untuk menyangkali Yesus dan hidup
atau mengakui Dia dan mati[3]. Dibawah pemaksaan yang demikian, sang martir
dengan bebas memilih lebih baik mati
daripada hidup. Kematian itu memeteraikan keyakinan hidup ini, yaitu bertindak
sebagai seorang saksi demi kebenaran akan Kristus dan bagi imannya sendiri.
Seseorang dikatakan pula sebagai martir
ketika orang itu rela menderita dan mati demi cintanya kepada Kristus. Ketulusan
cinta yang teramat mendalam pada Kristus, memberanikan orang untuk mengusir
rasa takut terhadap penyiksaan dan kematian. Kemartiran itu menjadi semakin
bermakna karena orang yang menderita penyiksaan karena iman dan cintanya pada
Kristus, tidak melakukan perlawanan-perlawanan yang berarti. Sesuai dengan
kata-kata Injil: “Jika musuhmu melempari engkau dengan batu, maka balaslah
melempari mereka dengan kapas”. Ajaran Kristus meminta supaya kita mengampuni
perlakuan-perlakuan yang tidak adil dengan memperluas perintah cinta.
Coba kita bayangkan apa yang dilakukan oleh
ke lima puluh satu putera Claretian di Barbastro tujuh puluh lima tahun yang
lalu ketika berhadapan dengan mahkota kemartiran. Mereka sunguh-sunguh
menghayati amanat Kristus ini. Mereka telah menghidupkan sebuah semboyan baru:
kekerasan dibalas dengan cinta. Cinta dijadikan sebagai alat pembalas terhadap
kekerasan dan penganiayaan yang mereka terima. Cinta itu terungkap dalam doa
mereka: “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang telah mereka
perbuat”. Serangkai ungkapan ketulusan Yesus ketika Ia tergantung di kayu
salib. Ia tidak membenci para serdadu yang telah melukai fisik dan batinNya,
malahan Ia mendoakan mereka kepada Bapa di surga. Inilah sebuah
pembuktian cinta yang sejati. Mencintai orang yang menyakiti. Tentu, hal inilah yang menjadi
motivasi terbesar bagi ke lima puluh satu tunas muda Claretian sebelum
menyerahkan keutuhan cinta mereka kepada Bapa melalui tangan-tangan para
penjahat. Mereka mau mati sebagai pengikut Kristus karena mereka tidak mau
menyangkal iman dan kaul-kaul religiusnya. Sungguh mereka sangat mencintai
panggilan hidup mereka.
Ketika mendengar nama mereka dipanggil,
mereka turun dari panggung dengan penuh semangat. Ada yang saling berpelukan
dengan gembira, ada yang mencium tali-tali yang dipakai untuk mengikat mereka .
Semua mereka mengampuni para algojo dan bertekat untuk mendoakan mereka di
surga[4], sesuai perintah Perjanjian
Baru: “Kamu mendengar bahwa : Kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu. Akan
tetapi Aku berpesan kepada kamu : Cintailah musuh-musuhmu, dan berbuatlah baik
kepada mereka yang membenci kamu; serta berdoalah bagi mereka yang menganiaya
dan memfitnah kamu [Mat 5:43-44]”. Jika dihayati, sesunguhnya kemartiran mereka
menjadi sebuah pembuktian ketulusan cinta yang teramat dasyhat. Kecintaannya
terhadap iman, merelakan mereka untuk
menyerahkan hidup. Mereka mati sambil
mengampuni.
Mereka menarik perhatian karena sebagian
besar dari mereka adalah pemuda-pemuda yang tanpa mencapai cita-cita imamat.
Bisa saja mereka murtad dan mengambil pilihan untuk menanggalkan iman mereka.
Namun, sangatlah terasa bagi mereka bahwa hal itu hanyalah sebuah pilihan yang
paling konyol. Ketika berbicara tentang pilihan, didalam kisah salib para
martir dari Barbastro, ditemukan sebuah tawaran untuk mengambil sebuah pilihan
yang sangat menggiurkan. Berkali-kali
mereka di tawarkan sebuah pilihan untuk murtad dari imannya. Namun, apakah yang
terjadi??? Para algojo hanya mendapat sebuah jawaban penolakan yang bersaratkan
kasih tinggi akan rasa kebersamaan. Sebagai contoh, ketika sebuah kesempatan
emas menghampiri Salvador Pigem. Ketika para algojo datang dan menawarkam untuk
membebaskan dirinya seorang diri, dengan tegas ia menolaknya. “Apakah engaku akan menyelamatkan saya
bersama-teman-temanku?” “Tidak, hanya kamu”. “Kalau begitu, saya tidak terima,
saya lebih suka menjadi martir bersama mereka”[5]. Dari
pernyataan ini, sekali lagi kita dapat melihat bahwa disini unsur mencinta
menampilkan dirinya sebagai penopang yang kokoh. Karena cinta, Tidak ada
seorangpun dari mereka yang mau bebas seorang diri dan melihat saudaranya yang
lain menerima mahkota kemartiran dengan kebahagiaan yang tiada tara. Kecintaan
terhadap keutuhan persaudaraan untuk merasa sepenanggungan menghancurkan
keinginan-keinginan akan kenikmatan pribadi. Jika satu menderita, semua menderita, itulah “slogan rasa se-ia,
sepenaggungan” dalam kebersamaan mereka. Ketika jalinan kebersamaan itu tetap
utuh terjaga, maka sebuah pengetahuan baru akan tersingkap bahwa kematian
manusia lama akan membuka jalan bagi hidup baru. Jadi, tidaklah perlu untuk
memecahkan kebersaaman itu, apalagi melangkah untuk melawan para penganiaya
tersebut. Sebab, semakin mendalam kita dengan sikap ramah dan cinta kasih
menyelami cara-cara mereka berpandang, semakin mudah kita untuk menjalin dialog dengan mereka.
Sebuah dialog yang bukan mengalir secara langsung dari mulut ke mulut,
melainkan sebuah dialog batin yang muncul ketika melihat fenomena ini. Dialog
itu terjadi pada para penganiaya ketika sering kali perasaan bingung
menghampiri mereka tatkala melihat sukacita aneh pada saat para martir yang
mula-mula menghadapi kematian mereka. “Bukan main pria-pria itu. Bahkan pada
saat mereka ditembak di kepala, mereka menyerahkan diri kepada Allah. Baiklah,
anda sudah melihat cara orang-orang ini meninggal. Mereka kelihatan bergembira
mati demi Kristus mereka”[6]. Ungkapan kekaguman dari para
pembunuh ini, dapat menggambarkan bahwa betapa besar rasa cinta mereka kepada
Kristus yang mereka imani. Rasa cinta yang teramat dalam ini, membuat mereka
merelakan hidup mereka direngut dan terlebih lagi untuk meninggalkan cita-cita
imamat yang mereka idam-idamkan.
SENTILAN AKHIR
Sungguh tragis kisah hidup
ke lima puluh satu tunas muda Claretian ini. Mereka rela mendapatkan penyiksaan
yang teramat keji demi sebuah pergumulan cinta yang mereka rajut bersama
Kristus. Tak ada satu arah yang melintang di jalan untuk menghalangi perjalanan
cinta mereka. Cinta mereka akan imannya pada Kristus, cinta pada panggilan
hidup yang telah mereka pilih, telah menghentikan masa depan hidup mereka di
dunia. Mereka dengan tegas memilih jalan ini karena mereka tidk ingin iman
mereka dinodai dengan segala nikmat dunia. Oleh karena itu, mereka tidak
menyesal dengan keputusan bijak yang mereka ambil. Dengan itu, mereka telah
merancang sebuah masa depan hidup yang penuh damai dan bahagia di surga.
Dengan mempelajari kebajikan
yang dilakukan oleh ke lima puluh satu tunas muda Claretian dari Barbastro,
sudah selayaknya kita mengikrarkan sebuah ungkapan keteguhan dalam mencinta. Cinta itu berenergi karena ia
terus menempel dalam hati dan pikiran kita, kedamaian, kesejukan akan mewarnai
pampilan diri. Betapapun derasnya arus gelombang kehidupan, kita mampu berenang
memerankan diri dengan baik. Betapapun kerasnya kehidupan ini, kita tidak
terjebak untuk menggunakan cara-cara yang kotor hanya untuk sekedar menggapai
apa yang diinginkan. Daya dobraknya mampu membongkar bangunan diri yang liar
seperti iri, dengki, picik, dan culas. Daya pikatnya mampu menarik perhatian
dan membuat kita bisa menebarkan pesona yang selalu diharapkan setiap orang.
Disana ada semangat untuk menghadapi dengan penuh percaya diri setiap hambatan
dan tantangan. Bahkan daya pantul cinta mampu meredam kemarahan yang memuncak.
Oleh karena itu, beranilah untuk memberi diri menderita sebagai konsekuensi
dari proses mencinta, karena dari sana sebuah mahkota kebahagiaan terindah akan
kita raih.
[1]Sumatono, KomunikasiKasihsayang,Alex
Media Komputindo, Jakarta 2004, ix.
[2]Susan Bergman, Para Martir:
Kisah-KisahKontemporerPergumulamImandalamDunia Modern,diterj. dari Martyrs: Contemporary Writers on Modern Lives
of faith oleh Ferdinand Suleeman, BPK GunungMulia, Jakarta 2008, 3.
[3]Susan Bergman,Para Martir:
Kisah-KisahKontemporerPegumulanImandalamDunia Modern, 4.
[4]Gabriel Campo Villegas, Para
Martir Claretian di Barbastro, diterj. olehSeminariTinggiClaretKupang, 63.
[5] Gabriel Campo Villegas, Para
Martir di Barbastro, 55.
[6] Gabriel Campo Villegas, Para
Martir Claretian di Barbastro, 8.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar