Kamis, 23 Agustus 2012

Mengenang Martir Claretian (CMF) di Barbastro

KEMARTIRAN: SEBUAH PEMBUKTIAN TERDASYHAT DALAM MENCINTA
PaschaL (Novis CMF 2012)
SENTILAN AWAL
                Kehidupan manusia tidak terlepas dari cobaan dan tantangan. Tantangan itu membuat manusia berada dalam pilihan dan butuh ketegaran hati untuk memilih. Ketika manusia mampu mengatasi tantangan itu, ia menemukan suatu makna baru dalam hidupnya.
Tuhan begitu mencintai kita, karena itu Dia tidak akan membiarkan kita jatuh dalam cobaan jika kita menyerahkan diri kepada-Nya. Karena cinta pula, Ia rela mengutus Putera-Nya tercinta ke dunia demi umatNya. Ia menunjukkan sebuah skenario percintaan-Nya dengan kita umatnya, melalui sengasara dan wafat Kristus. Ia mau mengajarkan kepada kita bahwa cinta merupakan kekuatan terdasyhat dalam membangun sebuah kehidupan. Karena cinta Ia merelakan Puteranya terkasih menderita dan karena cinta pulalah Yesus menjalankan tugasNya hingga berakhir di kayu salib.
Ketika cinta itu sudah ada dalam diri seseorang, maka tentulah segala sesuatu tidak memiliki kekuatan apapun untuk menghancurkannya. Cinta adalah anugerah terindah yang dikaruniakan Sang Pencipta kepada kita. Ia mencinta kita dan Ia pun berharap agar kita dapat mencintai-Nya dengan segenap kemampuan yang kita miliki. Cinta kasih menampilkan dirinya sebagai faktor penuntun dalam mewujudkan kehidupan yang penuh kedamaian. Tanpa hadirnya perasaan ini, tentulah orang akan menjalankan segala aktivitas kehidupannya berdasarkan pemahaman dan interpretasi secara individual yang akan mendorong terjadinya konflik[1]. Kasus-kasus seperti pembunuhan, penindasan, dan penganiayaan adalah contoh betapa pentingnya melakukan integritas diri dengan cinta kasih. Cinta adalah kekuatan. Ia mampu memasukan energi yang membuat diri menjadi tenang dan nyaman. Ketenangan dan kenyamanan yang diperoleh dalam kekuatan cinta membuat manusia mampu tegas untuk menahan dan menghancurkan tantangan-tantangan ataupun godaan-godaan yang akan menjauhkan diri kita dari Sang Cinta. Lalu, bagaimana cinta itu mengambil peran dalam kemartiran para pujangga muda Claretian di Barbastro tujuh puluh lima tahun silam???


MENCINTAI DALAM KONTEKS KEMARTIRAN
Pertama-tama perlu diketahui pengertian martir dan hubungan mencinta dalam proses kemartiran. Istilah martir membuat pikiran kita melayang pada pemandangan di arena Romawi Kuno di mana orang-orang kristen yang mula-mulai diadu dengan binatang buas. Atau, istilah itu juga dapat menunjukkan bukti-bukti mengerikan di abad keenam belas dalam Fixe’s Book of Martirs-yaitu sebuah buku yang menyajikan gambar-gambar penyiksaan dan ketelanjangan dari masa reformasi yang menyebutkan imam dan rahib Yesuit yang dibunuh bidat-bidat Protestan[2]. Lalu, bagaimana peranan cinta dalam konteks kemartiran? Apakah kedua hal ini memiliki keterkaitan? Adakah proses mencintai berpengaruh dlm sebuah kontek kemartiran? Sebuah jawaban singkat yang akan menjadi pencerah pertanyaan ini adalah “YA”. Sebuah proses kemartiran itu dapat terjadi karena cinta. Seorang rela mati karena ia ingin mempertahankan kesatuan cintanya dengan Dia yang ia cintai, Dia yang mencintainya dan dia yang telah mengadakan cinta itu sendiri. Yesus,Putera Allah, telah menyatakan cinta kasihNya dengan menyerahkan nyawaNya bagi kita. Maka tidak seorang pun mempunyai cinta kasih yang lebih besar daripada dia yang merelakan nyawanya untuk Dia dan untuk saudara-saudaranya [lih. 1Yoh. 3:16; Yoh 15:13]. Sudah sejak masa permulan ada orang-orang kristiani yang telah dipanggil dan selalu masih akan ada yang dipangil untuk memberi kesaksian cinta kasih yang tertinggi itu di hadapan semua orang, khususnya di muka para penganiaya. Maka Gereja memandang sebagai karunia luar biasa dan bukti cinta kasih tertinggi kematian sebagai martir yang menjadikan murid serupa dengan Guru yang dengan rela menerima wafatNya demi keselamatan dunia serupa dengan Dia dalam menumpakan darah [LG 42].
Martir, yang arti dasarnya “saksi”, pertama kali dipakai sebagai rujukan bagi orang-orang Kristen mula-mula yang dibunuh karena pengakuan iman mereka kepada Allah. Para saksi ini bukan saja mengungkapkan apa yang mereka lihat dengan mata mereka melainkan juga apa yang mereka lihat dengan hati mereka. Mereka menangung penderitaan sekarang sebab mereka yakin akan pemerintahaan Allah di bumi dan pengharapan yang akan menempatkan mereka dalam kehidupan surgawi yang akan datang. Istilah itu sudah meluas dalam pemakaian sekarang, tetapi dalam pengertian yang paling sederhana akan kemartiran, seorang individu dituntut untuk menyangkali Yesus dan hidup atau mengakui Dia dan mati[3].  Dibawah pemaksaan yang demikian, sang martir dengan bebas memilih  lebih baik mati daripada hidup. Kematian itu memeteraikan keyakinan hidup ini, yaitu bertindak sebagai seorang saksi demi kebenaran akan Kristus dan bagi imannya sendiri.
Seseorang dikatakan pula sebagai martir ketika orang itu rela menderita dan mati demi cintanya kepada Kristus. Ketulusan cinta yang teramat mendalam pada Kristus, memberanikan orang untuk mengusir rasa takut terhadap penyiksaan dan kematian. Kemartiran itu menjadi semakin bermakna karena orang yang menderita penyiksaan karena iman dan cintanya pada Kristus, tidak melakukan perlawanan-perlawanan yang berarti. Sesuai dengan kata-kata Injil: “Jika musuhmu melempari engkau dengan batu, maka balaslah melempari mereka dengan kapas”. Ajaran Kristus meminta supaya kita mengampuni perlakuan-perlakuan yang tidak adil dengan memperluas perintah cinta.
Coba kita bayangkan apa yang dilakukan oleh ke lima puluh satu putera Claretian di Barbastro tujuh puluh lima tahun yang lalu ketika berhadapan dengan mahkota kemartiran. Mereka sunguh-sunguh menghayati amanat Kristus ini. Mereka telah menghidupkan sebuah semboyan baru: kekerasan dibalas dengan cinta. Cinta  dijadikan sebagai alat pembalas terhadap kekerasan dan penganiayaan yang mereka terima. Cinta itu terungkap dalam doa mereka: “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat”. Serangkai ungkapan ketulusan Yesus ketika Ia tergantung di kayu salib. Ia tidak membenci para serdadu yang telah melukai fisik dan batinNya, malahan Ia mendoakan mereka kepada Bapa di surga. Inilah sebuah pembuktian cinta yang sejati. Mencintai orang yang menyakiti. Tentu, hal inilah yang menjadi motivasi terbesar bagi ke lima puluh satu tunas muda Claretian sebelum menyerahkan keutuhan cinta mereka kepada Bapa melalui tangan-tangan para penjahat. Mereka mau mati sebagai pengikut Kristus karena mereka tidak mau menyangkal iman dan kaul-kaul religiusnya. Sungguh mereka sangat mencintai panggilan hidup mereka.
Ketika mendengar nama mereka dipanggil, mereka turun dari panggung dengan penuh semangat. Ada yang saling berpelukan dengan gembira, ada yang mencium tali-tali yang dipakai untuk mengikat mereka . Semua mereka mengampuni para algojo dan bertekat untuk mendoakan mereka di surga[4], sesuai perintah Perjanjian Baru: “Kamu mendengar bahwa : Kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu. Akan tetapi Aku berpesan kepada kamu : Cintailah musuh-musuhmu, dan berbuatlah baik kepada mereka yang membenci kamu; serta berdoalah bagi mereka yang menganiaya dan memfitnah kamu [Mat 5:43-44]”. Jika dihayati, sesunguhnya kemartiran mereka menjadi sebuah pembuktian ketulusan cinta yang teramat dasyhat. Kecintaannya terhadap iman, merelakan mereka  untuk menyerahkan hidup.  Mereka mati sambil mengampuni.
Mereka menarik perhatian karena sebagian besar dari mereka adalah pemuda-pemuda yang tanpa mencapai cita-cita imamat. Bisa saja mereka murtad dan mengambil pilihan untuk menanggalkan iman mereka. Namun, sangatlah terasa bagi mereka bahwa hal itu hanyalah sebuah pilihan yang paling konyol. Ketika berbicara tentang pilihan, didalam kisah salib para martir dari Barbastro, ditemukan sebuah tawaran untuk mengambil sebuah pilihan yang sangat menggiurkan.  Berkali-kali mereka di tawarkan sebuah pilihan untuk murtad dari imannya. Namun, apakah yang terjadi??? Para algojo hanya mendapat sebuah jawaban penolakan yang bersaratkan kasih tinggi akan rasa kebersamaan. Sebagai contoh, ketika sebuah kesempatan emas menghampiri Salvador Pigem. Ketika para algojo datang dan menawarkam untuk membebaskan dirinya seorang diri, dengan tegas ia menolaknya. “Apakah engaku akan menyelamatkan saya bersama-teman-temanku?” “Tidak, hanya kamu”. “Kalau begitu, saya tidak terima, saya lebih suka menjadi martir bersama mereka”[5]. Dari pernyataan ini, sekali lagi kita dapat melihat bahwa disini unsur mencinta menampilkan dirinya sebagai penopang yang kokoh. Karena cinta, Tidak ada seorangpun dari mereka yang mau bebas seorang diri dan melihat saudaranya yang lain menerima mahkota kemartiran dengan kebahagiaan yang tiada tara. Kecintaan terhadap keutuhan persaudaraan untuk merasa sepenanggungan menghancurkan keinginan-keinginan akan kenikmatan pribadi. Jika satu menderita, semua menderita, itulah “slogan rasa se-ia, sepenaggungan” dalam kebersamaan mereka. Ketika jalinan kebersamaan itu tetap utuh terjaga, maka sebuah pengetahuan baru akan tersingkap bahwa kematian manusia lama akan membuka jalan bagi hidup baru. Jadi, tidaklah perlu untuk memecahkan kebersaaman itu, apalagi melangkah untuk melawan para penganiaya tersebut. Sebab, semakin mendalam kita dengan sikap ramah dan cinta kasih menyelami cara-cara mereka berpandang, semakin mudah  kita untuk menjalin dialog dengan mereka. Sebuah dialog yang bukan mengalir secara langsung dari mulut ke mulut, melainkan sebuah dialog batin yang muncul ketika melihat fenomena ini. Dialog itu terjadi pada para penganiaya ketika sering kali perasaan bingung menghampiri mereka tatkala melihat sukacita aneh pada saat para martir yang mula-mula menghadapi kematian mereka. “Bukan main pria-pria itu. Bahkan pada saat mereka ditembak di kepala, mereka menyerahkan diri kepada Allah. Baiklah, anda sudah melihat cara orang-orang ini meninggal. Mereka kelihatan bergembira mati demi Kristus mereka”[6]. Ungkapan kekaguman dari para pembunuh ini, dapat menggambarkan bahwa betapa besar rasa cinta mereka kepada Kristus yang mereka imani. Rasa cinta yang teramat dalam ini, membuat mereka merelakan hidup mereka direngut dan terlebih lagi untuk meninggalkan cita-cita imamat yang mereka idam-idamkan.

SENTILAN AKHIR
Sungguh tragis kisah hidup ke lima puluh satu tunas muda Claretian ini. Mereka rela mendapatkan penyiksaan yang teramat keji demi sebuah pergumulan cinta yang mereka rajut bersama Kristus. Tak ada satu arah yang melintang di jalan untuk menghalangi perjalanan cinta mereka. Cinta mereka akan imannya pada Kristus, cinta pada panggilan hidup yang telah mereka pilih, telah menghentikan masa depan hidup mereka di dunia. Mereka dengan tegas memilih jalan ini karena mereka tidk ingin iman mereka dinodai dengan segala nikmat dunia. Oleh karena itu, mereka tidak menyesal dengan keputusan bijak yang mereka ambil. Dengan itu, mereka telah merancang sebuah masa depan hidup yang penuh damai dan bahagia di surga.
Dengan mempelajari kebajikan yang dilakukan oleh ke lima puluh satu tunas muda Claretian dari Barbastro, sudah selayaknya kita mengikrarkan sebuah ungkapan keteguhan dalam mencinta. Cinta itu berenergi karena ia terus menempel dalam hati dan pikiran kita, kedamaian, kesejukan akan mewarnai pampilan diri. Betapapun derasnya arus gelombang kehidupan, kita mampu berenang memerankan diri dengan baik. Betapapun kerasnya kehidupan ini, kita tidak terjebak untuk menggunakan cara-cara yang kotor hanya untuk sekedar menggapai apa yang diinginkan. Daya dobraknya mampu membongkar bangunan diri yang liar seperti iri, dengki, picik, dan culas. Daya pikatnya mampu menarik perhatian dan membuat kita bisa menebarkan pesona yang selalu diharapkan setiap orang. Disana ada semangat untuk menghadapi dengan penuh percaya diri setiap hambatan dan tantangan. Bahkan daya pantul cinta mampu meredam kemarahan yang memuncak. Oleh karena itu, beranilah untuk memberi diri menderita sebagai konsekuensi dari proses mencinta, karena dari sana sebuah mahkota kebahagiaan terindah akan kita raih.













[1]Sumatono, KomunikasiKasihsayang,Alex Media Komputindo, Jakarta 2004, ix.
[2]Susan Bergman, Para Martir: Kisah-KisahKontemporerPergumulamImandalamDunia Modern,diterj. dari Martyrs: Contemporary Writers on Modern Lives of faith oleh Ferdinand Suleeman, BPK GunungMulia, Jakarta 2008, 3.
[3]Susan Bergman,Para Martir: Kisah-KisahKontemporerPegumulanImandalamDunia Modern,  4.

[4]Gabriel Campo Villegas, Para Martir Claretian di Barbastro, diterj. olehSeminariTinggiClaretKupang, 63.
[5] Gabriel Campo Villegas, Para Martir di Barbastro, 55.
[6] Gabriel Campo Villegas, Para Martir Claretian di Barbastro, 8.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar