Detakkan Jantung
Detakan jantung tanda kehidupan
Detakan jantung simbol perasaan
Detakan jantung selalu jujur
Detakan jantung ungkapan jiwa
Detakan jantung membuka senyum
ketika hening mulai mencekam
Detakan jantung semakin lamban
ketika usia mulai redup
Detakan jantung tak karuan
ketika senyum sampai ke hati
Detakan jantung menjadi tenang
ketika cinta ada di hati
Senin, 27 Agustus 2012
Minggu, 26 Agustus 2012
Dalam Diam
Masuk ke dalam Diam sugguh sulit
walau Diam adalah sesuatu yang sederhana
mungkin kita berhenti ditengah jalan
atau tak mau memikirkannya lagi
kadang kita berpikir bahwa Diam itu kosong
tapi itu hanya pikiran kita
Diam tak bisa dipikirkan
Diam tak bisa dibayangkan
karena ketika kita memikirkan tentang diam
kita tidak diam
ketika kita membanyangkan
kita tidak diam
diam hanya bisa di alami
pengalaman akan diam sungguh indah
karena disana ada ketenangan
yang tak diwarnai oleh gerakkan yang lain
Dalam Diam kita terbuka
dalam Diam kita berpasrah
dan di sana kita menerima
di sana kita menemukan
marilah berdiam sejenak
dan dengarkan bisikan di batinmu!
Kamis, 23 Agustus 2012
Mengenang Para Martir Claretian (CMF) di Barbastro
MARTIR: AKTUALISASI CITRA DIRI SEBAGI MURID
KRISTUS
(In
memoriam 75 Tahun Para Martir Claretian Barbastro)
Oleh:
Aloysius Edwino Ganti (Novis CMF 2012)
51 Claretian Muda dari Barbastro Sirami Tanah Spanyol dengan Darah
Mereka
Sepenggal seruan di atas merupakan salah satu dari
sekian banyak tulisan indah bekas peninggalan dari kelima puluh satu Martir Claretian
dari Barbastro(Spanyol). Seruan-seperti itu menjadi ekspresi batin di saat - saat
terakhir hidup mereka. Persembahan saat in
jury time itu terjadi tujuh puluh lima tahun silam(1936). Kala itu, terjadi
perang saudara di Spanyol. Kekacauan
politik dan nafsu-nafsu manusia
berada dalam tensi tinggi. Kejahatan - kejahatan dan berbagai kekejaman pun dilancarkan oleh
kubu - kubu yang berselisih. [2]Semua
itu memperkeruh situasi Spanyol waktu itu.
Dalam situasi Spanyol yang seperti inilah muncul kelima
puluh satu martir Claretian yang berani mati demi Yesus dan Maria serta Gereja
dan Tarekat tercinta. Mereka ini kemudian dikenal sebagai para martir Claretian
dari Barbastro. Pada waktu itu mereka sedang tinggal dalam sebuah komunitas
formasi(Seminari). Mereka sedang menyiapkan diri untuk menjadi para pelayan
Tuhan dalam dunia, Gereja, dan Tarekat. Sebagian besar dari mereka sedang
berada di tahun terakhir masa studi. Selain itu, sebagian besar dari mereka
adalah pemuda-pemuda yang berada dalam usia dua puluh sampai dua puluh empat
tahun.[3]
Sangat
mengagumkan keberanian mereka. Bagisebagian orang, ini merupakan suatu
kebodohan dan perbuatan yang gila. Ya, jika dilihat secara sepintas, mereka
seperti orang-orang bodoh yang membiarkan hamparan ladang nan subur dan penuh
dengan tanaman berharga terbakar di
depan mata mereka. Mereka membuang semua
impian dan masa depan yang menjanjikan hanya karena ingin mati sebagai martir
demi mempertahankan apa yang menjiwai mereka. Akan tetapi itulah keunggulan
iman mereka yang menjadi kebanggaan kita di setiap generasi.
Dalam
surat-surat dan tulisan - tulisan yang mereka tinggalkan untuk kita, dengan
nada penuh bangga dan tulus, mereka menjelaskan penyebab kematian mereka. Salvador
Piguem, CMF menuliskan, “Mereka
membunuh kami karena benci terhadap agama. Tuhan ampunilah mereka. Di dalam
penjara, kami tidak memberikan perlawanan apapun. Dalam rumah, perilaku kami
tidak bercacat. Hiduplah Hati Tak Bernoda Maria! Mereka menembak kami hanya
karena kami adalah para religius [biarawan].”[4]
Di kemudian hari, para pembunuh yang
kejam itu mengakui pula alasan pembunuhan kelima puluh satu putra Gereja yang
tak bercacat itu. Amadeo Bonch, salah seorang anarkis yang terlibat dalam aksi
itupun bersaksi, “Sayang mereka tak mau
bergabung dengan kami. Mereka mati demi citra yang dihayati mereka. Tiada yang
dapat menyingkirkan mereka dari hal itu.”[5] Demikian selama bulan Juli sampai Agustus
1936, para martir ini disiksa,
diintimidasi, sebelum dibunuh secara sadis!
Yesus Kristus: Mata Air Kemartiran
Yesus Kristus putra Allah
yang mengambil rupa seorang hamba(bdk. Flp 2, 7 - 8) diutus Bapa ke dunia untuk
melaksanakan kehendak-Nya (bdk. Yoh 5, 36). Misi perutusan ini sekaligus
memenuhi pewahyuan Allah yang sebelumnya dimaklumkan oleh para nabi. Dengan
demikian, Yesus Kristus adalah puncak wahyu itu sendiri (DV 4).
Yesus datang ke dunia untuk mewartakan pembebasan
bagi dunia dari penghambaan dosa. Dengan ilham ilahi, Dia telah memberikan pewartaan dan kesaksian yang benar tentang
kasih Allah dan kerajaan-Nya(bdk. Yoh 3,1-12). Melalui pewartaan itu, manusia
dapat dibebaskan dari kuasa dosa dan menjadi satu kembali dengan Allah, serta
diangkat menjadi anak- anak-Nya.
Akan
tetapi, Yesus dalam karya-karyanya di dunia
tidak diterima begitu saja oleh umat yang telah dipercayakan (Bapa)
kepadaNya. Dia sering ditolak dan ajaran-Nyapun ditentang oleh mereka. Orang -orang
yang seharusnya menerima pengajaran
Yesus cenderung menutup diri terhadap
Yesus pun ajaran-Nya, bahkan ada yang menganggapnya sebagai penghujat Allah,
orang gila dari Galilea yang tidak tahu adat istiadat Yahudi.
Kendati demikian, Yesus dengan kekuatan Roh-Nya
tak surut menyerukan kebenaran
kepada mereka. Dengan lantang Ia meyakinkan mereka bahwa Dia adalah
seorang yang diutus untuk membawa kabar gembira yakni keselamatan.
Buntut dari semua tindakan Yesus itu adalah munculnya
gerakan orang-orang yang tidak menyukai-Nya dan menantang-Nya. Mereka itu
selalu berusaha untuk menyingkirkan Yesus. Semakin hari kebencian mereka
terhadap Yesus semakin bertambah besar. Puncak dari semua itu adalah peristiwa
penangkapan, pengadilan Yesus secara tak adil, dan penyaliban Yesus hingga
wafat.
Melalui darahNya sendiri, Yesus memeteraikan segala yang telah dimaklumkan-Nya termasuk
identitas-Nya sendiri yakni “Anak Allah”. Dia mati demi mempertahankan
kebenaran sejati dan demi kebaikan dunia dan umat kesayangan Bapa.
Kematian Yesus dilihat sebagai contoh utama kemartiran.[6] Dialah sumber air kemartiran Gereja. Dari-Nya
mengalir kekuatan yang merasuki para pengikut-Nya untuk mati demi kesaksian dan
citra atau identitas yang sama.
Aktualisasi Citra Diri
Mengaktualisasikan diri
berarti mewujudnyatakan eksistensi diri. Dengan kata lain, memperkenalkan
sesuatu yang terpendam dalam diri. Hal-hal di dalam diri yang masih abstrak dikonversikan menjadi sebuah
realita konkret yang dapat dilihat atau dipahami. Pewujudnyataan eksistensi
diri yang dimaksud tentu dibuat melalui suatu karya atau aksi nyata.
Dalam tulisan sederhana ini penulis ingin melukiskan
aktualisasi diri dari kelima puluh satu orang martir Claretian dari Barbastro.
Dalam mana, mereka telah menunjukan diri mereka melalui aksi penyerahan diri
yang total.
Seperti
Kristus, kelima puluh satu martir Claretian ini pun hadir dengan suatu citra
yang sama yakni sebagai orang-orang terpilih dan anak-anak Allah. Mereka telah
dipanggil untuk mengalami hidup seperti Kristus. Melalui panggilan itu mereka
bersaksi tentang kebenaran kerajaan Allah.
Kelima
puluh satu saudara kita para martir Claretian dari Barbastro ini sesungguhnya
merupakan contoh orang-orang yang sadar akan identitas diri. Kesadaran akan identitas sebagai putra -
putra Allah mendorong mereka untuk berani berkorban demi kelanjutan karya
Yesus. Miguel Massip menuliskan ayat lagu seorang misionaris seperti
berikut untuk menyatakan perasaannya,“Yesus
Engkau tahu akulah prajurit-Mu; selalu di samping-Mu aku berjuang, satu janji
dan cita-cita, demi Engkau darah tertumpah.”[7]
Dengan cara-cara seperti itu mereka memberikan kesaksian akan kebenaran cinta
kepada Yesus dan sang Bapa.
Kita juga perluh mengingat bahwa kemartiran para
martir ini tidak disebabkan oleh kegilaan akan harta duniawi. Henri J M Nouwen
seorang penulis spiritual asal Belanda
pernah menyatakan, “Yang harus kau
perjuangkan adalah meyakini kebenaran batinmu
dan hidup di dunia ini sebagai orang yang bukan milik dunia.”[8]Bagi
saya, saudara-saudara kita para martir Claretian dari Barbastro ini pun telah
menempuh perjuangan itu. Mereka sungguh telah meyakinkan diri mereka sebagai
yang bukan milik dunia melainkan milik Kristus. Kematian yang mereka terima
adalah kemenangan atas dunia. Mereka berjuang bukan untuk menjadi agung seperti
harapan dunia, melainkan demi citra diri
sebagai murid-murid Kristus dan anak-anak Allah yang sejati. Hal ini diamini
pula oleh P. Aquilino Bocos, CMF, bahwa mereka mati hanya demi satu citra.[9]
Penderitaan dan kematian
kelima puluh satu martir Claretian ini memang tragis. Siapa yang peduli pada
mereka. Siapa juga yang pernah memikirkan kematian dari sekian banyak religius,
di bunuh dalam satu rumah atau komunitas dan dalam waktu yang begitu singkat.
Namun perluh kita akui bahwa ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi
kita baik sebagai Gereja maupun Tarekat. Maka kita mesti bangga karena
saudara-saudara kita ini telah menerima pembaptisan darah dan menunjukan
kesempurnaan cinta kasih; sebuah kesempurnaan cinta yang membawa mereka kepada
pangkuan Bapa. Dengan cara demikian pula, mereka sungguh menunjukan siapakah
mereka sebenarnya. Itulah tindakan mengaktualisasikan citra diri versi mereka.
Baiklah kita bertanya pada diri masing – masing, mampukah kita
menunjukan diri kita yang sebenarnya? Hiduplah Kristus Raja. Hiduplah Bunda
Maria. Hiduplah Gereja. Hiduplah Tarekat tercinta.
[1]Gabriel Campo Villegas, Claretian Martyrs of Barbastro, Ditrj.
DariMartiresClaretianos de Barbastro,Oleh,Joseph
Daries,CMFClaretian Publications, Quezon City, Philippines,1992, 36.
[2]Ibid,P.3
[3]Ibid,P.4
[4]Ibid p. 25
[5]Saat-saatTerakhirKematian
Para Martir Claretian dariBarbastro (terj: oleh Claretian Indonesia-Timor
Leste): Tarekat Para Misionaris Claretian, 1999.
[6]Gerald O’Collins, SJ &
Edward G. Farrugia, SJ, KamusTeologi,Ditrj.
Dari, A Conciens Dictionary Of Theology,Oleh:
I. Suharyo, Pr,Kanisius,
Yogyakarta,1996, 191.
[7]Gabriel Campo Villegas, Claretian Martyrs of Barbastro, 24.
[8]Henri J.M. Nouwen,Engkaudikasihi, Diterj. Dari, Life of The Beloved,Oleh:I. Suharyo, Pr,
Kanisius, Yogyakarta, 1995, 73
[9]Saat-saatTerakhirKematian
Para Martir Claretian dariBarbastro (terj: oleh Claretian Indonesia-Timor
Leste): Tarekat Para Misionaris Claretian, 1999.
Mengenang Martir Claretian (CMF) di Barbastro
KEMARTIRAN: SEBUAH PEMBUKTIAN TERDASYHAT DALAM MENCINTA
PaschaL (Novis CMF 2012)
SENTILAN AWAL
Kehidupan manusia tidak terlepas
dari cobaan dan tantangan. Tantangan itu membuat manusia berada dalam pilihan
dan butuh ketegaran hati untuk memilih. Ketika manusia mampu mengatasi
tantangan itu, ia menemukan suatu makna baru dalam hidupnya.
Tuhan begitu mencintai kita, karena itu Dia tidak akan membiarkan kita
jatuh dalam cobaan jika kita menyerahkan diri kepada-Nya. Karena cinta pula, Ia
rela mengutus Putera-Nya tercinta ke dunia demi umatNya. Ia menunjukkan sebuah
skenario percintaan-Nya dengan kita umatnya, melalui sengasara dan wafat
Kristus. Ia mau mengajarkan kepada kita bahwa cinta merupakan kekuatan
terdasyhat dalam membangun sebuah kehidupan. Karena cinta Ia merelakan
Puteranya terkasih menderita dan karena cinta pulalah Yesus menjalankan
tugasNya hingga berakhir di kayu salib.
Ketika cinta itu sudah ada dalam diri seseorang, maka tentulah segala
sesuatu tidak memiliki kekuatan apapun untuk menghancurkannya. Cinta adalah
anugerah terindah yang dikaruniakan Sang Pencipta kepada kita. Ia mencinta kita
dan Ia pun berharap agar kita dapat mencintai-Nya dengan segenap kemampuan yang
kita miliki. Cinta kasih menampilkan dirinya sebagai faktor penuntun dalam
mewujudkan kehidupan yang penuh kedamaian. Tanpa hadirnya perasaan ini,
tentulah orang akan menjalankan segala aktivitas kehidupannya berdasarkan
pemahaman dan interpretasi secara individual yang akan mendorong terjadinya
konflik[1]. Kasus-kasus seperti
pembunuhan, penindasan, dan penganiayaan adalah contoh betapa pentingnya
melakukan integritas diri dengan cinta kasih. Cinta adalah kekuatan. Ia mampu
memasukan energi yang membuat diri menjadi tenang dan nyaman. Ketenangan dan
kenyamanan yang diperoleh dalam kekuatan cinta membuat manusia mampu tegas
untuk menahan dan menghancurkan tantangan-tantangan ataupun godaan-godaan yang
akan menjauhkan diri kita dari Sang Cinta. Lalu, bagaimana cinta itu mengambil
peran dalam kemartiran para pujangga muda Claretian di Barbastro tujuh puluh
lima tahun silam???
MENCINTAI DALAM KONTEKS KEMARTIRAN
Pertama-tama perlu diketahui pengertian
martir dan hubungan mencinta dalam proses kemartiran. Istilah martir membuat
pikiran kita melayang pada pemandangan di arena Romawi Kuno di mana orang-orang
kristen yang mula-mulai diadu dengan binatang buas. Atau, istilah itu juga
dapat menunjukkan bukti-bukti mengerikan di abad keenam belas dalam Fixe’s Book of Martirs-yaitu sebuah buku
yang menyajikan gambar-gambar penyiksaan dan ketelanjangan dari masa reformasi
yang menyebutkan imam dan rahib Yesuit yang dibunuh bidat-bidat Protestan[2]. Lalu, bagaimana peranan cinta
dalam konteks kemartiran? Apakah kedua hal ini memiliki keterkaitan? Adakah
proses mencintai berpengaruh dlm sebuah kontek kemartiran? Sebuah jawaban
singkat yang akan menjadi pencerah pertanyaan ini adalah “YA”. Sebuah proses
kemartiran itu dapat terjadi karena cinta. Seorang rela mati karena ia ingin
mempertahankan kesatuan cintanya dengan Dia yang ia cintai, Dia yang
mencintainya dan dia yang telah mengadakan cinta itu sendiri. Yesus,Putera
Allah, telah menyatakan cinta kasihNya dengan menyerahkan nyawaNya bagi kita.
Maka tidak seorang pun mempunyai cinta kasih yang lebih besar daripada dia yang
merelakan nyawanya untuk Dia dan untuk saudara-saudaranya [lih. 1Yoh. 3:16;
Yoh 15:13]. Sudah sejak masa permulan ada orang-orang kristiani yang telah
dipanggil dan selalu masih akan ada yang dipangil untuk memberi kesaksian cinta
kasih yang tertinggi itu di hadapan semua orang, khususnya di muka para
penganiaya. Maka Gereja memandang sebagai karunia luar biasa dan bukti cinta
kasih tertinggi kematian sebagai martir yang menjadikan murid serupa dengan
Guru yang dengan rela menerima wafatNya demi keselamatan dunia serupa dengan
Dia dalam menumpakan darah [LG 42].
Martir, yang arti dasarnya
“saksi”, pertama kali dipakai sebagai rujukan bagi orang-orang Kristen
mula-mula yang dibunuh karena pengakuan iman mereka kepada Allah. Para saksi
ini bukan saja mengungkapkan apa yang mereka lihat dengan mata mereka melainkan
juga apa yang mereka lihat dengan hati mereka. Mereka menangung penderitaan
sekarang sebab mereka yakin akan pemerintahaan Allah di bumi dan pengharapan
yang akan menempatkan mereka dalam kehidupan surgawi yang akan datang. Istilah
itu sudah meluas dalam pemakaian sekarang, tetapi dalam pengertian yang paling sederhana
akan kemartiran, seorang individu dituntut untuk menyangkali Yesus dan hidup
atau mengakui Dia dan mati[3]. Dibawah pemaksaan yang demikian, sang martir
dengan bebas memilih lebih baik mati
daripada hidup. Kematian itu memeteraikan keyakinan hidup ini, yaitu bertindak
sebagai seorang saksi demi kebenaran akan Kristus dan bagi imannya sendiri.
Seseorang dikatakan pula sebagai martir
ketika orang itu rela menderita dan mati demi cintanya kepada Kristus. Ketulusan
cinta yang teramat mendalam pada Kristus, memberanikan orang untuk mengusir
rasa takut terhadap penyiksaan dan kematian. Kemartiran itu menjadi semakin
bermakna karena orang yang menderita penyiksaan karena iman dan cintanya pada
Kristus, tidak melakukan perlawanan-perlawanan yang berarti. Sesuai dengan
kata-kata Injil: “Jika musuhmu melempari engkau dengan batu, maka balaslah
melempari mereka dengan kapas”. Ajaran Kristus meminta supaya kita mengampuni
perlakuan-perlakuan yang tidak adil dengan memperluas perintah cinta.
Coba kita bayangkan apa yang dilakukan oleh
ke lima puluh satu putera Claretian di Barbastro tujuh puluh lima tahun yang
lalu ketika berhadapan dengan mahkota kemartiran. Mereka sunguh-sunguh
menghayati amanat Kristus ini. Mereka telah menghidupkan sebuah semboyan baru:
kekerasan dibalas dengan cinta. Cinta dijadikan sebagai alat pembalas terhadap
kekerasan dan penganiayaan yang mereka terima. Cinta itu terungkap dalam doa
mereka: “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang telah mereka
perbuat”. Serangkai ungkapan ketulusan Yesus ketika Ia tergantung di kayu
salib. Ia tidak membenci para serdadu yang telah melukai fisik dan batinNya,
malahan Ia mendoakan mereka kepada Bapa di surga. Inilah sebuah
pembuktian cinta yang sejati. Mencintai orang yang menyakiti. Tentu, hal inilah yang menjadi
motivasi terbesar bagi ke lima puluh satu tunas muda Claretian sebelum
menyerahkan keutuhan cinta mereka kepada Bapa melalui tangan-tangan para
penjahat. Mereka mau mati sebagai pengikut Kristus karena mereka tidak mau
menyangkal iman dan kaul-kaul religiusnya. Sungguh mereka sangat mencintai
panggilan hidup mereka.
Ketika mendengar nama mereka dipanggil,
mereka turun dari panggung dengan penuh semangat. Ada yang saling berpelukan
dengan gembira, ada yang mencium tali-tali yang dipakai untuk mengikat mereka .
Semua mereka mengampuni para algojo dan bertekat untuk mendoakan mereka di
surga[4], sesuai perintah Perjanjian
Baru: “Kamu mendengar bahwa : Kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu. Akan
tetapi Aku berpesan kepada kamu : Cintailah musuh-musuhmu, dan berbuatlah baik
kepada mereka yang membenci kamu; serta berdoalah bagi mereka yang menganiaya
dan memfitnah kamu [Mat 5:43-44]”. Jika dihayati, sesunguhnya kemartiran mereka
menjadi sebuah pembuktian ketulusan cinta yang teramat dasyhat. Kecintaannya
terhadap iman, merelakan mereka untuk
menyerahkan hidup. Mereka mati sambil
mengampuni.
Mereka menarik perhatian karena sebagian
besar dari mereka adalah pemuda-pemuda yang tanpa mencapai cita-cita imamat.
Bisa saja mereka murtad dan mengambil pilihan untuk menanggalkan iman mereka.
Namun, sangatlah terasa bagi mereka bahwa hal itu hanyalah sebuah pilihan yang
paling konyol. Ketika berbicara tentang pilihan, didalam kisah salib para
martir dari Barbastro, ditemukan sebuah tawaran untuk mengambil sebuah pilihan
yang sangat menggiurkan. Berkali-kali
mereka di tawarkan sebuah pilihan untuk murtad dari imannya. Namun, apakah yang
terjadi??? Para algojo hanya mendapat sebuah jawaban penolakan yang bersaratkan
kasih tinggi akan rasa kebersamaan. Sebagai contoh, ketika sebuah kesempatan
emas menghampiri Salvador Pigem. Ketika para algojo datang dan menawarkam untuk
membebaskan dirinya seorang diri, dengan tegas ia menolaknya. “Apakah engaku akan menyelamatkan saya
bersama-teman-temanku?” “Tidak, hanya kamu”. “Kalau begitu, saya tidak terima,
saya lebih suka menjadi martir bersama mereka”[5]. Dari
pernyataan ini, sekali lagi kita dapat melihat bahwa disini unsur mencinta
menampilkan dirinya sebagai penopang yang kokoh. Karena cinta, Tidak ada
seorangpun dari mereka yang mau bebas seorang diri dan melihat saudaranya yang
lain menerima mahkota kemartiran dengan kebahagiaan yang tiada tara. Kecintaan
terhadap keutuhan persaudaraan untuk merasa sepenanggungan menghancurkan
keinginan-keinginan akan kenikmatan pribadi. Jika satu menderita, semua menderita, itulah “slogan rasa se-ia,
sepenaggungan” dalam kebersamaan mereka. Ketika jalinan kebersamaan itu tetap
utuh terjaga, maka sebuah pengetahuan baru akan tersingkap bahwa kematian
manusia lama akan membuka jalan bagi hidup baru. Jadi, tidaklah perlu untuk
memecahkan kebersaaman itu, apalagi melangkah untuk melawan para penganiaya
tersebut. Sebab, semakin mendalam kita dengan sikap ramah dan cinta kasih
menyelami cara-cara mereka berpandang, semakin mudah kita untuk menjalin dialog dengan mereka.
Sebuah dialog yang bukan mengalir secara langsung dari mulut ke mulut,
melainkan sebuah dialog batin yang muncul ketika melihat fenomena ini. Dialog
itu terjadi pada para penganiaya ketika sering kali perasaan bingung
menghampiri mereka tatkala melihat sukacita aneh pada saat para martir yang
mula-mula menghadapi kematian mereka. “Bukan main pria-pria itu. Bahkan pada
saat mereka ditembak di kepala, mereka menyerahkan diri kepada Allah. Baiklah,
anda sudah melihat cara orang-orang ini meninggal. Mereka kelihatan bergembira
mati demi Kristus mereka”[6]. Ungkapan kekaguman dari para
pembunuh ini, dapat menggambarkan bahwa betapa besar rasa cinta mereka kepada
Kristus yang mereka imani. Rasa cinta yang teramat dalam ini, membuat mereka
merelakan hidup mereka direngut dan terlebih lagi untuk meninggalkan cita-cita
imamat yang mereka idam-idamkan.
SENTILAN AKHIR
Sungguh tragis kisah hidup
ke lima puluh satu tunas muda Claretian ini. Mereka rela mendapatkan penyiksaan
yang teramat keji demi sebuah pergumulan cinta yang mereka rajut bersama
Kristus. Tak ada satu arah yang melintang di jalan untuk menghalangi perjalanan
cinta mereka. Cinta mereka akan imannya pada Kristus, cinta pada panggilan
hidup yang telah mereka pilih, telah menghentikan masa depan hidup mereka di
dunia. Mereka dengan tegas memilih jalan ini karena mereka tidk ingin iman
mereka dinodai dengan segala nikmat dunia. Oleh karena itu, mereka tidak
menyesal dengan keputusan bijak yang mereka ambil. Dengan itu, mereka telah
merancang sebuah masa depan hidup yang penuh damai dan bahagia di surga.
Dengan mempelajari kebajikan
yang dilakukan oleh ke lima puluh satu tunas muda Claretian dari Barbastro,
sudah selayaknya kita mengikrarkan sebuah ungkapan keteguhan dalam mencinta. Cinta itu berenergi karena ia
terus menempel dalam hati dan pikiran kita, kedamaian, kesejukan akan mewarnai
pampilan diri. Betapapun derasnya arus gelombang kehidupan, kita mampu berenang
memerankan diri dengan baik. Betapapun kerasnya kehidupan ini, kita tidak
terjebak untuk menggunakan cara-cara yang kotor hanya untuk sekedar menggapai
apa yang diinginkan. Daya dobraknya mampu membongkar bangunan diri yang liar
seperti iri, dengki, picik, dan culas. Daya pikatnya mampu menarik perhatian
dan membuat kita bisa menebarkan pesona yang selalu diharapkan setiap orang.
Disana ada semangat untuk menghadapi dengan penuh percaya diri setiap hambatan
dan tantangan. Bahkan daya pantul cinta mampu meredam kemarahan yang memuncak.
Oleh karena itu, beranilah untuk memberi diri menderita sebagai konsekuensi
dari proses mencinta, karena dari sana sebuah mahkota kebahagiaan terindah akan
kita raih.
[1]Sumatono, KomunikasiKasihsayang,Alex
Media Komputindo, Jakarta 2004, ix.
[2]Susan Bergman, Para Martir:
Kisah-KisahKontemporerPergumulamImandalamDunia Modern,diterj. dari Martyrs: Contemporary Writers on Modern Lives
of faith oleh Ferdinand Suleeman, BPK GunungMulia, Jakarta 2008, 3.
[3]Susan Bergman,Para Martir:
Kisah-KisahKontemporerPegumulanImandalamDunia Modern, 4.
[4]Gabriel Campo Villegas, Para
Martir Claretian di Barbastro, diterj. olehSeminariTinggiClaretKupang, 63.
[5] Gabriel Campo Villegas, Para
Martir di Barbastro, 55.
[6] Gabriel Campo Villegas, Para
Martir Claretian di Barbastro, 8.
Langganan:
Komentar (Atom)